Proposal Integrated Farming System (IFS)

PENDAHULUAN

Kendala Dalam Pertanian Dan Peternakan

Salah satu kendala dalam pertanian maupun peternakan adalah pupuk dan pakan ternak, mahalnya harga pupuk dan pakan ternak juga menyebabkan penghasilan petani dan peternak semakin hari semakin menipis dan pada akhirnya sebagian dari mereka lebih memilih bekerja walaupun dengan penghasilan yang lebih kecil namun lebih pasti, akhirnya potensi besar pertanian dan peternakan di Indonesia tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, banyak lahan pertanian yang beralih fungsi dan banyak petani dan peternak yang beralih profesi.

Eksport komuditi pertanian dan peternakan bukanlah sebuah solusi yang tepat, bahkan semakin memperburuk keadaan. Yang diperlukan adalah sebuah sistem tata kelola pertanian yang lebih berpihak kepada petani dan peternak. Salah satu alternatif yang sangat memungkinkan adalah konsep pertanian terintegrasi (Integrated Farming System). Dimana konsep ini bisa memberikan solusi atas masalah-masalah yang telah diuraikan diatas.

Sekilas IFS (Integrated Farming System)

IFS bukan sebuah konsep yang baru, sejatinya IFS adalah ekosistem murni ciptaan tuhan, bahkan sebelum manusia diciptakanpun konsep ini sudah ada, dimana tanaman dan hewan saling berinteraksi memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanaman menghasilkan buah untuk bereproduksi sedangkan limbahnya berupa sisa-sisa tanaman melalui proses perombakan alami dirubah menjadi pakan hewan, begitu juga sebaliknya hewan bereproduksi untuk berkembang biak, sedangkan limbahnya berupa urine dan fases dengan perombakan alami dirubah menjadi pupuk untuk kebutuhan tanaman.

Kondisi pertanian dan peternakan yang memprihatinkan dewasa ini terjadi karena secara tidak bertanggung jawab manusia telah memotong rantai ekosistem alami tersebut, dengan keserakahannya manusia membuat berbagai pupuk dan pakan kimiawi yang justru sangat merugikan, salah satunya adalah revolusi hijau 1950-1980. Dalam jangka waktu yang cukup panjang (30 tahun) pupuk kimia telah terbukti telah menyebabkan lahan pertanian menjadi rusak, begitu juga sebaliknya.

Penggunaan pupuk kimia dan pakan formulasi serta obat-obatan kimia, selain merugikan pertanian dan peternakan juga berdampak langsung dalam peningkatan biaya produksi, hal ini pula lah yang mengakibatkan posisi tawar (bargaining position) petani dan peternak kita menjadi sangat lemah, mereka tidak mampu bersaing di era globalisasi ini dan semakin lama semakin terpuruk.

IFS dapat kita implementasikan kepada sekelompok masyarakat atau lebih, baik satu komoditi maupun beberapa komoditi sekaligus yang dimulai dari pemanfaatan limbah setiap komoditi, selanjutnya dilakukan barter produk olahan limbah tersebut secara terorganisir sehingga berdampak langsung terhadap penekanan biaya produksi (from zero waste to zero cost).

MAKSUD DAN TUJUAN

Berdasarkan uaraian diatas kami mengajukan sebuah Sistem Tatakelola Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) dengan metode menginisiasi, memfasilitasi, mengorganisir, memberikan pelatihan dan pendampingan, serta monitoring agar petani dan peternak dapat meningkatkan produktifitasnya secara mandiri dan berkelanjutan serta meningkatkan penghasilan yang lebih layak (tidak kurang dari standart pendapatan di daerah objek).

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini dirancang selama 7 tahun, dimulai dari pembangunan komplek IFS sebagai pusat kegiatan yang berpusat di Desa Santan Tengah yang selanjutnya akan dikembangkan ke wilayah objek program yaitu ke 3 Kabupaten yang berdampak langsung dengan kegiatan perusahaan tambang PT. Indominco Mandiri, yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kodya Bontang.

RENCANA KERJA

Gambar 1. Peta Rencana Kerja

Kegiatan ini dapat dikelompokan sbb:

  1. Pengadaan Indukan Sapi.

    Pengadaan indukan sapi dapat dilakukan dengan tiga cara:

    a. Pengadaan baru

    b. Mengumpulkan sapi yang ada

    c. Kombinasi keduanya

    Adapun jumlahnya dapat ditentukan berdasarkan:

    a. Ketersediaan Sapi

    b. Jumlah peternak yang akan terlibat

    c. Luasan lahan padi yang akan diintegrasikan

    Namun semuanya harus dihitung agar proporsional sehingga tidak terjadi penumpukan produk atau sebaliknya.

  2. Pemeliharaan Indukan.

    Tujuan dari pemeliharaan indukan sapi agar masyarakat tidak bergantung kepada supplier sapi (mandiri), dan program ini bertumbuh karena setiap tahun terjadi penambahan jumlah sapi yang dikelola sebanyak indukan yang dipelihara. Setelah terpenuhi target utama, hasil dari anakan sapi setiap tahunnya dapat dikelola untuk kepentingan operasional. Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 2. Pencampaian Target

Penjelasan Gambar:

  • Setiap tahun, mulai tahun ke-2 pusat IFS dapat menyalurkan sebanyak 48 anakan sapi untuk dipelihara oleh peternak terseleksi, misalnya masing-masing 2 ekor untuk 24 orang.
  • Mereka memeliharanya, menjual, dan mengembalikan modalnya seharga sapi anakan.
  • Pengelola IFS membelikan uang pengembalian tersebut kepada supplier dan menyerahkan kembali kepada peternak, sambil menyerahkan anakan hasil pengembangbiakan sebagai tambahan kepada penerima hasil seleksi.
  • Begitu seterusnya setiap tahun sampai tahun ke-6.

Jika tahun ke-6 jumlah sapi yang telah disalurkan sebanyak 240 ekor, dengan asumsi pengelola sebanyak 48 orang, maka masing-masing pengelola telah memelihara sebanyak 5 ekor, jika targetnya 1 orang peternak memelihara 5 ekor sapi, maka target sudah terpenuhi.

  1. Pengolahan Limbah.

    Pengolaha limbah merupakan kegiatan utama, limbah dari sapi indukan ditampung kemudian diproses secara fermentasi menjadi dua produk yaitu Bio Urine (hasil fermentasi urine) dan Super Bokashi (Hasil fermentasi fases). Kemudian kedua produk hasil pengolahan limbah ini didistribusikan kepada petani padi dengan cara barter dengan limbah padi, kemudian limbah padi diolah secara fermentasi untuk kemudian didistribusikan kepada peternak sapi sebagai pakan utama. Demikian seterusnya, sehingga proses ini merupakan proses yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

  2. Penyerahan Anakan Sapi dan Hasil Olahan Limbah Kepada Masyarakat Terseleksi.

    Penyerahan sapi tidak begitu saja, melainkan melalui proses seleksi. Adapun prosesnya adalah sbb:

    1. Pertama-tama kita mengumpulkan masyarakat yang berminat mengikuti program ini.
    2. Kemudian melakuka seleksi dengan mengutamakan objek yang belum memiliki pekerjaan atau masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan.
    3. Yang mau memelihara sapi dengan aturan main dan SOP yang telah dibuat.
    4. Kemudian menandatangani perjanjian.

    Adapun garis besar peraturannya adalah sbb:

    1. Sapi harus dikandangkan menggunakan kandang sesuai dengn SOP.
    2. Limbah sapi dikumpulkan untuk ditukar dengan pakan sapi.
    3. Peternak wajib menjual sapinya melalui satu pintu yaitu BUMDES yang telah ditunjuk pengelola termasuk waktu penjualan dan harganya.
  3. Pengintegrasian Dengan Petani Padi

    Seperti halnya dengan peternak sapi, rekrutmen petani padi pun melalui beberapa proses seleksi dan SOP yang sama, adapun perbedaannya yaitu:

    1. Petani tidak menerima bibit dan lainnya, hanya menerima pupuk dan pestisida hayati hasil pengolahan limbah ternak sapi serta decomposer perombak tanah.
    2. Pupuk, pestisida hayati, dan decomposer ditukar (barter) dengan limbah padi berupa jerami dan dedak halus, sementara untuk dedak kasar pada tahap pertama belum di proses.
  4. Kolaborasi Dengan BUMDES Untuk Pemasaran.

    Kolaborasi dengan BUMDES perlu dilakukan, adapun keuntungan keterlibatan BUMDES yaitu:

    1. Penjualan satu pintu akan mempermudah pelaksanaan bagi petani dan peternak, serta dapat menstabilkan harga, karena BUMDES wajib memberikan harga yang terbaik dan bermitra dengan buyer yang terbaik.
    2. Dengan melibatkan BUMDES secara tidak langsung melakukan kolaborasi dengan perangkat Desa, hal ini akan berdampak sosial dan menjamin kelangsungan program.
  5. Monitoring

    Setelah program ini terlaksana, maka setiap tugas-tugas dilapangan hendaknya didelegasikan kepada sumber daya manusia lokal, dan tugas Team CD PT. Indominco Mandiri adalah monitoring seluruh proses kegiatan sesuai dengan SOP.

KEBUTUHAN SARANA DAN PRASARANA

Kebutuhan sarana dan prasarana akan diajukan dalam beberapa tahap (6 Tahap), untuk tahap pertama diajukan untuk kegiatan produksi di pusat IFS, adapun sarana yang harus dipersiapkan adalah:

  1. Bahan Baku:
    1. Bahan baku berupa indukan sapi sebanyak 48 ekor sebanyak satu kali sepanjang program berlangsung.
    2. Decomposer secara kontinyu dan sesuai kebutuhan selama program berlangsung.
  2. Tenaga Kerja:
  • 1 Orang Dokter Hewan, baik sebagai pekerja tetap maupun freelance.
  • 8 Orang tenaka kerja tetap untuk melakukan pekerjaan harian, dengan penempatan sbb:
    • 2 Orang di bagian kebun pakan
    • 2 Orang di bagian pemeliharaan sapi
    • 2 Orang di bagian pengolahan limbah cair
    • 2 Orang dibagian pengolahan limbah padat
  1. Infrastruktur:

    Bangunan-bangunan fisik yang diperlukan seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

    (Untuk gambar lebih jelas bisa dilihat pada lampran 2)


Gambar 3. Denah Kandang dan Pengolahan Limbah Sapi

  1. Kandang sapi utama dengan kapasitas 48 ekor, ukuran 36 X 6 m, serta kandang tambahan sbb:

Tabel 1. Kandang Tambahan dan Ukurannya


  1. Digester Biogas 40-60 m3
  2. Kolam Pengatusan sebanyak 3 unit dengan ukuran masing-masing 5 X 20 m2
  3. Unit Pengolahan Limbah Padat (Super Bokashi), dan Unit Pengolahan Limbah Cair (Bio Urine), bangunan permanen atau semi permanen ukuran 30 x 20 m2.
  4. Selain bangunan dibutuhkan juga lahan untuk menanam rumput sebagai pakan ternak seluas 7 Ha, dengan bangunan pengolahan dan fasilitas jalan yang memadai.
  1. Sarana produksi.

    Sarana produksi yang diperlukan pada setiap unit pengolahan adalah sbb:

Tabel 2. Sarana Produksi


  1. Pelatihan dan Pendampingan.

    Ada 6 kegiatan pertemuan yang akan dilaksanan dengan masyarakat dan pemerintah Desa terkait program yaitu sosialisasi dan pelatihan-pelatihan sebagai alih teknologi. Adapun pelatihan yang akan diberikan materinya sbb:

    1. Sosialisasi Program IFS.
    2. Pelatihan Pemeliharaan Sapi.
    3. Pelatihan Pengolahan Limbah Cair.
    4. Pelatihan Pengolahan Limbah Padat.
    5. Pelatihan Peningkatan Produksi Padi.
    6. Pelatihan Pengolahan Limbah Padi.

Pengajuan sarana tahap selanjutnya adalah sbb:

Tahap Ke-2 : Pengajuan sarana pengolahan limbah padi dan pengolahan limbah sapi untuk anakan generasi pertama.

Tahap Ke-3 : Pengajuan sarana pengolahan limbah sapi untuk anakan generasi kedua.

Tahap Ke-4 : Pengajuan sarana pengolahan limbah sapi untuk anakan generasi ketiga.

Tahap Ke-5 : Pengajuan sarana pengolahan limbah sapi untuk anakan generasi keempat.

Tahap Ke-6 : Pengajuan sarana pengolahan limbah sapi untuk anakan generasi kelima.

ANALISA MANFAAT

Jika dilihat dari berbagai aspek program ini mempunyai berbagai manfaat seperti berikut ini:

  1. Aspek Sosial.

    Dilihat dari aspek sosial sistem yang dibangun pada program ini akan membentuk komunitas pertanian dan peternakan yang berkelompok dan membentuk kerjasama dibawah kendali dan pengawasan team CD PT. Indominco Mandiri.

    Untuk skala ini komunitas yang dapat terbentuk yaitu 48 orang peternak dan 48 orang petani terseleksi dari beberapa desa dalam 3 Kabupaten.

  2. Aspek Ekonomi.

    Dilihat dari aspek ekonomi program ini dapat merubah masyarakat objek yang tidak produktif menjadi sangat produktif dan yang miskin menjadi punya kehidupan yang layak.

    Program ini dirancang agar peternak dapat melakukan usaha pembesaran sapi sebanyak 5 ekor per orang. Jika selisih harga penjualan dan pengembalian modal sebanyak Rp. 10.000.000,- maka mereka berpotensi untuk mendapatkan penghasilan diatas Rp. 4.000.000,- per bulan.

        Sedangkan untuk petani padi program ini merancang agar mereka bisa menanam padi dengan luas lahan 1 Ha dan mendapatkan penghasilan Rp. 4.000.000,- per bulan, hanya dengan target panen gabah kering giling sebanyak 2 Ton /Ha /Siklus panen.

    Hal ini bisa terjadi karena peternak tidak perlu membeli pakan dan petani tidak perlu membeli pupuk lagi.

    Jika semua digabung maka program ini setelah mencapai masa inkubasinya (7 tahun), maka dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat sebesar Rp. 4.608.000.000,- per Tahun secara berkelanjutan.

    Selain keuntungan untuk masyarakat, program ini dirancang agar pusat IFS setelah 7 Tahun dapat memenuhi kebutuhan operasionalnya secara mandiri yang didapat dari:

    1. Hasil penjualan anakan sapi senilai Rp. 384.000.000,- per tahun
    2. Hasil dari pengalihan fungsi kebun pakan, karena setelah terintegrasi dengan sempurna sebagian besar lahan kebun (± 5 Ha) dapat dipergunakan untuk pengolahan produk turunan atau penanaman tanaman lain selain rumput, misalnya jagung atau singkong. Jika ditanami singkong berpotensi menghasilkan 1.000.000 Kg atau setara denga Rp. 500.000.000,- per tahun
    3. Penjualan pupuk padat (super bokashi), karena pupuk padat dipergunakan untuk pemulihan lahan sawah sebanyak 3-4 masa tanam (2 tahun) saja. Pupuk padat ini jika di kalkulasi berpotensi menghasilkan uang sebesar Rp. 864.000.000,-
    4. Jika dijumlahkan manfaat a,b,c maka diperoleh nilai sebesar Rp. 1.748.000.000,- per tahun

    Maka Total manfaat yang diperoleh sebesar Rp. 6.356.000.000,- per tahun.

  1. Aspek Lingkungan

    Dari aspek lingkungan program ini memang dirancang agar ramah lingkungan karena program ini adalah program pengolahan limbah, merubah limbah menjadi penuh manfaat. Selain itu secara tidak langsung program ini telah membangun komunitas pertanian dan peternakan yang “GO ORGANIK“.

PENUTUP

Sebagai penutup kami menyampaikan beberapa hal yang harus kita perhatikan bersama guna kelancaran program, diantaranya yaitu:

  1. Investasi ini cukup aman karena:
    1. Market sapi sudah pasti
    2. Sapi dapat diasuransikan
    3. Didampingi tenaga ahli dan dokter hewan
  2. Program ini berpihak kepada masyarakat dan pada intinya masyarakat tinggal melaksanakan saja sesuai prosedur dengan hasil yang menguntungkan dan terukur.
  3. Program ini sudah diimplementasikan dibeberapa daerah dan cukup berhasil, baik yang terintegrasi maupun terpisah.
  4. Sebagai penguat keberhasilan program ini, kami sarnakan agar:
    1. Pihak penyelenggara (PT. Indominco Mandiri) membuat nota kesepahaman (MOU) dengan pemerintah daerah setempat, agar program tidak tumpang tindih dan dapat bersinergi dengan program-program pemerintah lainnya.
    2. Membuat aturan main yang jelas dan mengikat (Regulasi) baik kepada masyarakat objek, pihak-pihak pengelola, maupun para pemangku kepentingan.
    3. Pengelola (PT. Indominco Mandiri beserta tam internal maupun eksternal) harus bisa “mensterilkan” program ini dari berbagai kepentingan.
    4. Para pemangku kepentingan (Stackholder) harus tar manage dengan baik.

Demikianlah Sistem Tatakelola Pertanian Terintegrasi (Integrated Farming System) yang kami usulkan, semoga menjadi tambang pahala untuk kita semua.

Bontang 24 Maret 2020,

Team Leader,

(Carles Andy)

Penyusun,

(Ir. Edy Krisnadi)

LAMPIRAN

Lampiran-1. Perkiraan Biaya Investasi Non Bangunan Fisik Tahap Pertama dan Biaya Operasional Per Bulan

Halaman ini sengaja dihilangkan

Lampiran-2. Denah Pusat IFS

Gambar 4. Pembangunan Sarana Fisik Tahap-1

Gambar 5. Denah Pusat IFS

Leave a Reply

Your email address will not be published.